May 20, 2017

Benarkah Sistem Kebut Semalam Bikin Cepat Pintar

Benarkah Sistem Belajar Kebut Semalam Bikin Kita Cepat Pintar ?

apa benar sistem belajar kebut semalam itu efektif

Katanya tujuan kita sekolah itu buat cari ilmu. Tapi kayaknya, kita mungkin sekolah biar dapat nilai ujian sempurna aja. Alasannya biar disayang ortu lah, masuk sekolah favorit lah, biar ujung-ujungnya kita dapet jodoh bagus atau kerjaan yang bikin cepat kaya. Tapi seperti biasa, kita pasti suka mikir gimana caranya dapat untung sebesar-besarnya, dengan usaha sekecil-kecilnya. Dari situ tercetuslah ide brilian yang bernama… Sistem Kebut Semalam! 

Tapi benarkah SKS semujarab kata-kata orang?

Pada dasarnya, SKS merupakan sebuah metode yang mirip-mirip teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dimana porsi kerjaan untuk jangka waktu tertentu diselenggarakan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tapi bedanya, SKS cuma diselenggarakan semalam aja. Persis seperti Bandung Bondowoso waktu bikin Candi Prambanan. Biasanya, orang yang paling ahli melakukan SKS adalah mereka yang tergolong sebagai penunda. Untuk tahu apakah kamu seorang penunda, coba perhatikan dua grafik ini.


Kalau kamu lebih akrab dengan grafik yang ini, maka… SELAMAT! Kamu termasuk kategori penunda!

Berhubung para penunda biasanya juga pakar ngeles, mereka sering beralasan bahwa SKS bikin kita punya kemampuan super. Logika ilmiahnya, situasi kepepet akan memicu rilis hormon adrenalin, yang bisa melipat gandakan kemampuan kita melebihi hari-hari biasa. Di satu sisi, cara mikir ini, ga salah sih… karena banjir adrenalin memang bisa bikin otak terasa segar buat mikir cepat. Tapi di sisi lain, efek ini ga bakal berlangsung lama, dan biasanya menyisakan stres dan capek luar biasa. Memang tiada yang abadi di dunia ini…

Selain itu, SKS punya efek samping ga terelakkan, yaitu begadang! Buat yang paginya mau ujian, begadang seakan nambah waktu belajar. Nyatanya, begadang cuma mengandalkan memori jangka pendek yang sifatnya sementara. Belum lagi, begadang sebetulnya bikin otak capek, sehingga paginya kita malah jadi ga konsen, moody dan pastinya ngantuk setengah mati. Lebih ngeri lagi, hobi begadang ternyata meningkatkan risiko buruk buat tubuh kita. Jadi memang sebaiknya jangan begadang kalau tiada artinya….

Tapi kalau dampak jeleknya banyak banget, kenapa masih banyak… orang yang suka menunda-nunda?

Di dunia psikologi, sifat menunda sangatlah akrab dengan istilah temporal discount. Artinya, makin jauh jaraknya dari deadline, suatu tugas bakal kita anggap makin kurang penting. Akibatnya, skripsian misalnya, terasa belum penting kalau belum mepet-mepet deadline. Sifat menunda juga ada hubungannya dengan impulsivitas dalam DNA kita. Dulu di alam liar, kehidupan masih serba sederhana. Kalau lapar, kita tinggal berburu. Urusan hari itu ya dipikirkan saat itu juga. Tapi makin kompleks kehidupan manusia, makin banyak kebutuhan yang mau ga mau harus kita rencanakan jauh-jauh hari. Cuma praktiknya, impulsivitas prasejarah kita ini emang masih suka kumat-kumatan. Pokoknya, selalu aja ada alasan kalau sesuatu belum mengancam nyawa atau… ahem, gengsi kita.

Dan itu dia masalahnya! Selama ini sekolah terbiasa menilai kepintaran siswa nyaris dari nilai pelajaran doang. Gampangnya, yang dilihat adalah hasil jangka pendek, bukan jangka panjangnya. Akhirnya, wajar aja kalau kita juga jadi gampang menyerah pada kesenangan sesaat, tanpa memikirkan apa akibatnya di kemudian hari. Apalagi dengan banyak distraksi online yang reward-nya serba instan seperti sekarang. Padahal pepatah juga tahu. Kalau mau maju, kita emang musti bersusah-susah dahulu, baru bersenang-senang kemudian.
Dan seperti biasa, terima kasih.

Gimana pendapat kalian..
Share dibawah :)